Minggu, 23 Oktober 2011

cerita : Ciuman Untuk Hajar Aswad

1309817977660774553

Ciuman Untuk Hajar Aswad 

cerita : Naga Pamungkas

LELAKI berumur lima puluh tahunan itu datang kepadaku, minta ditemani mencium hajar aswad. Dia mengacuhkan pembicaraan kawan lain yang mengatakan, untuk mencium hajar aswad cukup lah dari jauh; dengan mengecupkan tangan kanan sambil memandang hajar aswad. Lelaki itu ingin sekali mencium hajar aswad, dengan memasukan kepala ke dalamnya. Dia ingin merasakan kenyaman hati saat mencium batu dari sorga tersebut.
Saya ragu. Karena untuk mencium hajar aswad itu perlu perjuangan, yang tak gampang dan bisa saja tak berhasil. Karena, ratusan orang – di antara jutaan jamaah- yang tawaf mengelilingi ka’bah. Saya ragu, karena kakinya lecet, sehingga agak menyulitkan saya untuk berebutan dengan jamaah lain.
Akhirnya karena dia terus mendesak, saya mau juga. Kenapa dia minta ditemani karena dia tahu saya berkali-kali telah mencium hajar aswad. Dia mendengar perbincangan iseng, yang menanyakan apakah saya telah mencium hajar aswad, saya jawab; saya mencium hajar aswad setelah tawaf sebelum dan sesudah melaksanakan shalat lima waktu. Alhamdulilah, saya memang diberi kemudahan olah-Nya untuk mencium hajar aswad berkali-kali.
Pernah suatu kali, saya membantu seorang ibu yang ingin sekali mencium hajar aswad. Berkali-kali dia ikut berdesak-desakan mendekati hajar aswad yang terletak di sudut Ka’bah, berkali-kali pula dia kembali terdorong ke belakang. Saya ingin membantu. Saya kembali berdesak-desakan. Saya berusaha berada di depan itu. Menjaga agar tak terdorong ke belakang dan menjadi pegangan untuk bersama maju ke depan. Kian mendekati hajar aswad, gelombang desakan tubuh-tubuh yang besar dari berbagai negara itu seakan melemparkan tubuh saya dan ibu itu. Saya berusaha bertahan. Saya lihat ibu itu masih di belakang. Tangan saya menjangkau besi, yang berada di dekat hajar aswad , maka tenanglah saya. Saya menunggu mereka yang bergantian memasukkan kepala ke hajar aswad, setelah itu bersiap-siap berebutan untuk giliran berikutnya.
Ibu itu masih dibelakang saya. Tak dihiraukannya, lelaki-lelaki tinggi hitam dari Afrika atau lelaki bule dari Eropa yang juga berebutan untuk mencium hajar aswad. Saya beri ibu itu kesempatan untuk maju. Tangan saya masih memegang pagar besi kecil di dekat hajar aswad. Ibu itu berhasil maju di depan saya. Saya coba menjaga, dengan tetap tangan berpegangan di besi dekat hajar aswad. Setelah berdiri di depan hajar aswad, tidaklah mudah untuk memasukan kepala. Karena ratusan orang yang berdekatan juga ingin memasukan kepalanya, mencium batu dari sorga itu. Agar mencium hajar aswad itu, kepala ibu itu saya pegang dan saya bantu untuk bisa mencium hajar aswad dan berhasil.
Ibu itu lega. Biasanya, setelah melepaskan ciuman dari hajar aswad, maka tubuh kita akan kembali terdorong ke belakang karena desakan badan jamaah lain yang berebutan mencium hajar aswad. Karena ibu itu ingin ke belakang, dia menolah kepada saya; sudah, sudah jangan halangan saya.
Saya sedikit kecewa. Bukan terima kasih yang diterima. Tapi … kalimat yang berbau marah.
***
SAYA mengatakan kepada lelaki itu, kita tawaf saja dulu, sambil terus mendekati dinding ka’bah. Dia mengikut. Kami terus tawaf hingga akhirnya berhenti di dinding ka’bah. Kami bergeser sedikit demi sedikit menuju hajar aswad. Makin mendekati hajar aswad, tubuh kami kian terjepit ke dinding ka’bah. Kami terus bertahan. Saya perhatikan dia, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kami makin terjepit. Lelaki itu belum mau menyerah. Sungguh sulit mendekati hajar aswad. Posisi saya berada di depan lelaki itu. Saya berusaha mendekat, terus mendekat dengan susah payah. Merayap di dinding ka’bah. Marapat sambil sesekali berdoa, semoga diberi kekuatan mencium ‘hanya batu pecahan-MU dari sorga’. Kami mencium aroma sorga hanya dari batu-Mu …
Saya berhasil berpegangan di besi dekat hajar aswad. Saya cium hajar aswad, cukup lama … hati yang nyaman terasakan. Tak ada ingatan tentang berbagai urusan duniawi. Tak sejuta pikiran tentang urusan hidup. Saya cium beberapa kali.
Setelah ciuman dilepas, lega sekalipun jamaah yang tawaf menyadarkan kita bahwa kita masih di dunia. Saya tahu lelaki itu belum memenuhi hasrahnya untuk mencium hajar aswad. Saya berusaha membantunya. Tangan kanan saya mengarahkan kepalanya, dan lelaki itu cukup lama pula mencium batu dari sorga itu. Alhamdulilah.
***
KAMI sedang duduk-duduk di dekat pintu masjid haram , ketika istri lelaki itu menemui kami. Kami kelelahan setelah mencium hajar aswad. Selain kami, ada pula beberapa—ada sekitar 5 orang– pemuda asal Banjarmasin, yang duduk di dekat kami. Kami berkenalan. Setelah bercakap-cakap, kami mengetahui bahwa para pemuda dari Banjarmasin itu mencari makan dengan menwarakan jasa untuk membantu mencium hajar aswad. Ongkosnya 25 real.
Istri lelaki itu menanyakan, apakah kami sudah mencium hajar aswad? Kami jawab sudah dan dia juga ingin mencium hajar aswad pula. Suaminya berkata, cukup sulit mencium hajar aswad. Istrinya tetap bersikeras. ‘’Bila tidak mau menemai, biar saya sendiri saja,’’ dia lantas melangkahkan kakinya menuju hajar aswad. Sendirian.
Saya lantas meminta para pemuda itu mengikuti untuk membantu istri lelaki itu mencium hajar aswad. Mereka mengatakan, cukup tiga orang saja. Nantinya saya di depan dan dua orang di sisi kiri dan kanan istri lelaki itu. Kami lantas mengganti jasa mereka 25 real.
Tak berapa lama istri lelaki itu datang. Sendirian. Pemuda dari Banjarmasin itu tidak ada lagi ‘’Alhamdulilah pak, Allah melapangkan jalan saya. Dengan mudahnya saya melangkah mencium hajar aswad. Jalan seperti terbuka …,’’ istri lelaki itu bercerita. ‘’Di depan dan di samping saya seperti ada yang melindungi. Orang di depan saya malah nampaknya tidak mencium hajar aswad, dia member kesempatan kepada saya. Begitupula yang berada di samping kanan dan kiri saya, mereka menjaga saya. Mungkin mereka itu malaikat ya …’’. Istri lelaki it uterus menceritakan pengalamannya, yang terasa mudah mencium hajar aswad.
Saya dan lelaki itu hanya tersenyum. ***
Masjidil haram,Mekkah 2003

crebung : (Buku Seri I. menuju pertarungan lima tahunan; 2013—Cersilpol/cerita silat politik : Naga Pamungkas)

(2)

Perguruan  De Mo Cui Diterpa Badai

(Buku Seri  I.  menuju pertarungan lima tahunan; 2013—Cersilpol/cerita silat politik  : Naga Pamungkas)


13100397431899895076

BUKAN Sui Bai Yu namanya bila tak mampu mengendalikan badai yang melanda perguruannya.  Ukuran badan mantan jenderal ini memang besar, tapi jangan nilai pikiran atau wawasannya kecil.  Mei Ga Wa, pendekar wanita dari Banteng Gendut terseret auranya kalah dengan Sui Bai Yu yang mendapat banyak simpati dari ibu-ibu..  Mei Ga Wa pernah menjadi ketua para pendekar beberapa tahun. Bahkan, Sui Bai Yu pernah menjadi anak buah Mei Ga Wa sebagai menteri. Namun, karena Sui Bai Yu ini memiliki ilmu jurus penyedot simpati wanita, maka dalam pemilihan kepala pendekar dia mampu mengalahkan Mei Ga Wa, yang tak disukai wanita. Padahal Mei Ga Wa memiliki andalan jurus mengunci mulut menyimpan suara.
Sejak kejatuhan Dinasti Su Hat Su, pemilihan ketua dewan pendekar memang agak berbeda. Bila sebelumnya, ketua dewan pendekar dipilih oleh wakil anggota Dewan Pendekar, kini kepala dewan pendekar  dipilih oleh  rakyat negeri. Berarti pilihan rakyat menentukan kemenangan.
‘’ Hasss …. Hessss …. Husss ,’’ Sui Bai Yu melatihkan pernafasan tenaga dalamnya. Kedua tangannya ditarik ke dada lantas dilontarkannya ke depan. Kakinya sedikit merenggang. Dia kembali menarik nafas, lalu kembali mengeluarkannya; ‘’husss ….’’.  Bagi yang tak memiliki ilmu kanuragan, gerakan-gerakan Sui bai Yu itu memang dianggap biasa. Tapi bagi mereka yang ‘berisi’ atau memiliki ilmu tingkat tinggi. Gerakan-gerakan Sui bai Yu memiliki seperti gunung berapi. Bila meletus, maka masyarakat di sekitarnya akan kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri. ‘’ Husss ……    tuuuuuut,’’.  Nah, bunyi yang terakhir itu bukan ilmu. Tapi buang angin. Bukan keluar dari mulut. Tapi dari pantat.
Sang istri, Ah Nie hanya senyum-senyum. ‘’Suamiku … terlalu menyedot angin, akhirnya kemasukan angin lalu setelah melewati perut dibuang lagi lewat pantat,’’ suara Ah Nie. Sang suami, Sui Bai Yu hanya tersenyum. Dia menghentikan latihannya. Kakinya melangkah mendekati sang istri, yang duduk di bangku taman. Di atas meja kecil telah tergeletak teko berisi the dan dua gelas di atas baki.
Tentang Ah Nie ini sebelumnya sempat beredar di dunia persilatan, Sui Bai Yu akan menyusun siasat untuk menyorong istrinya Ah Nie untuk menggantikan dirinya. Isu itu langsung ditepis Sui Bai Yu; ‘’isu itu tidak benar. Saya jamin istri saya tidak akan mencalonkan diri untuk menggantikan saya,’’ katanya.
Sui Bai Yu berpikiran, isu tentang akan majunya Ah Ni  dalam pertarungan para pendekar terlalu cepat. Karena waktu pemilihannya sekitar 2 tahun lagi.  Sui Bai Yu tentu saja tak enak hati. Karena periode kepemimpinannya belum berakhir. Dengan jurus ilmu mengalihkan isu, Sui Bai Yu akhirnya bisa melumpuhkan jurus melempar isu menjerat korban tersebut. Entah, belum diketahui siapa yang telah menyebarkan racun tersebut. Namun yang jelas tentu saja pihak lawan, yang tak ingin Perguruan De Mo Cui memenangkan pertarungan para pendekar di tahun 2013. Sui Bai Yu tak ingin diserang lebih awal sementara pertarungan masih lama.
Sekitar setengah jam Sui Bai Yu bercerita dengan istrinya Ah Ni, datang Hai Ra Ta ketua pendekar perguruan matahari menginggit bumi. Dibandingkan menteri lain, Hai Ra Ta termasuk dekat. Bahkan, anak Sui Bai Yu telah dijodohkan dengan anak Ah Ni. Ini bukan strategi politik,  ini jurus ilmu saling mendekatkan diri. Namun sebagian pengamat pendekar menilai; penyatuan ikatan kekeluargaan tersebut juga berbau ‘ikatan politik’ dari Su Bai Yu dan Hai Ra Ta.
Dalam rapat paripurna dewan pendekar, perguruan matahari menggigit bumi tak perlu membangkang atau menghianati perguruan De Mo Cui.  Berbeda dengan anggota perguruan hijau atau anggota perguruan Go Kai, yang berani berbeda pendapat dalam menentukan kebijakan.
Bagi De Mo Cui, kebijakan yang menyerang atau menyindir dinasti Su Bai Yu harus dilawan. Bukan koalisi perguruan namanya, bila ada perbedaan pendapat di antara mereka. Kalau perguruan Banteng Gendut jelas, ketua mereka Mei Ga Wa lebih memilih sebagai perguruan banteng gendut, yang kritis terhadap kekuasaan dinasti Su Bai Yu. Jurus-jurus andalan yang digunakan anggota perguruan banteng gendut ini cukup merepotkan Su Bai Yu.
Kedatangan Hai Ra Ta hal yang biasa bagi Ah Nie. Makanya, perempuan murah senyum itu sangat dicintai Ah Nie.  Bahkan saking cintanya, Su Bai Yu sedikit agak takut dengan istrinya tersebut. Boleh dikata, Su Bai Yu ini termasuk suami yang takut istri.  Kenapa disebut begitu, karena dalam beberapa kebijakan, Ah Nie disebut-sebut ikut mempengaruhi.  Namun belakanga isu tak jelas itu diragukan kebenarannya. Bukan itu. Bukan takut istri, tapi Su Bai Yu sangat mencintai istrinya. Karena sama dengan suami-suami yang lain, semua keinginan boleh disetujui. Suami boleh melakukan apa pun. Bahkan dimarahi pun istri akan diam saja. Cuma satu yang agak sulit bagi kebanyakan lelaki, yakni mengatakan untuk beristri lagi.  Karena bila keinginan itu disampaikan; maka kelinci akan langsung berubah menjadi macan, yang siap mencakar dan mengamuk.
Kedatangan Hai Ra Ta itu hanya tentang perjodohan anak. Makanya Ah Nie tak ikut beranjak. Kaena ini bukan urusan para pendekar. Tapi ini urusan ikatan kekeluargaan.
***
A Bao, Ketua Perguruan Go Kai tersenyum-senyum tentang badai kasus yang sedang menerpa perguruan De Mo Cui. Baginya ini suatu keuntungan. Kalau berbicara soal keuntungan, A Bao jagonya. Karena selain pendekar, dirinya juga saudagar. Kepiawainya dalam mengatur bisnisnya diakui banyak saudagar lainnya. Makanya, kalau bicara tentang uang dan harta, A Bao ini termasuk orang kaya di negeri kepulauan tersebut.
Lelaki yang paham betul menggunakan uangnya untuk menguasai dunia persilatan ini sedang didampingi beberapa pengurus Go Kai, yang berlambang partai pohon beringin ini. Rupanya, A Bao dan pengurus Go Kai sedang rapat. Mereka optimis, dengan kisruh di perguruan De Mo Cui, perguruan Go Kai akan mampu mengalahkan De Mo Cui.
Go Kai adalah perguruan lama. Seperti pohon beringin, yang akarnya kuat mencengkram bumi ke tanah dan bergantungan di langit, begitulah keinginan pengurus Go Kai. Perguruan ini harus mengakar ke masyarakat, maka dengan mudahnya setelah itu meraih kekuasaan. Motto mereka, suara rakyat adalah suara Go Kai. Suara Go Kai adalah suara rakyat. Kalau perguruan Banteng Gendut, adalah perguruannya wong cilik. Sekalipun setelah terpilih sebagai anggota dewan pendekar, bukan lagi suara rakyat atau wong cilik. Tapi kepentingan aku dan kelompok aku yang utama, suara atau kepentingan wong cilik itu setelah itu terpenuhi. Susahnya, kebutuhan pribadi, keluarga dan kelompok tak akan selalu bisa dirasa terpenuhi. (bersambung)
Belum apa-apa?  Belum terlihat jual-beli  jurus antara perguruan De Mo Cui, Go Kai dan Banteng Gendut.  Sabar. Sabar. Sambungannya masih dipikirkan. Belum dibikin. Apa ya kira-kira lanjutannya? Tunggulah tulisan berikutnya. Nanti kita adu mereka.  Saya mandi dulu. Capek duduk sekitar setengah jam mengelus keaboard.
16.40 wita-17.20 wita,  7 Juli 2011

cerpen : OPERA PAK KARTO

OPERA PAK KARTO
Oleh : Naga Pamungkas
PAK Karto kaget.
Tak mungkin, pikirnya. Dia menengok lagi ke bawah, lantas mengusap-ngusap kedua matanya dengan jari telunjuk. Masih tak yakin, dia mencubit lagi paha kananya keras-keras. Sakit. Pak Karto yang dalam posisi jongkok segera menjulurkan tangannya mengambil benda yang membuatnya kaget setengah mati itu.
Memang keras. Didekatkannya benda itu di matanya. Dia meneliti sekali lagi benda yang baru saja dikeluarkan dari perutnya itu. Dan tangan kanannya meremas-remas. Keras. Ini aneh tapi nyata. Semua mungkin saja terjadi. Ini benar-benar emas! Ini emas! Tahi Pak Karto berubah menjadi emas.
‘’Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi,’’ teriak Pak Karto bergegas bangkit. Yah, betul ini bukan mimpi atau khayalan Pak Karto belaka.
‘’Bu, bu’eee , kita kayaaa … ‘’ teriak Pak Karto kegirangan. Dia berlari-lari mendekati istrinya yang sedang memasak di dapur. Sampai Pak Karto kelupaan, pantatnya belum dibasuh.
***
SEJAK peristiwa di pagi buta itu, kehidupan Pak Karto mulai berubah. Bagai siang dan malam. Dulu suram kini cerah. Sebelum peristiwa itu, sekitar sebulan yang lalu, Pak Karto dengan istri satu dan empat anak hidup serba kekurangan. Penghasilan dia sebagai tukang ojek dan istrinya sebagai penjual nasi kuning dekat di Pasar Sungai Dama tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia ke Samarinda ikut program transmigrasi. Di tempatkan di Palaran. Namun karena hasil kebun tak mencukupi, dia menjual jatah rumah dan tanah dari pemerintah, lalu mengontrak rumah di dekat Pasar Sungai Dama.
Sejak kejadian setelah imsak di bulan ramadhan itu keluarga Pak Karto telah benar-benar berubah sama sekali. Istri Pak Karto tidak menjual nasi kuning dan lontong lagi. Pak Karto berhenti jadi tukang ojek. Kerja baru Pak Karto adalah bangun pagi-pagi, lantas buang air besar dan tahi yang berubah menjadi emas itu lantas dijualnya ke took-toko emas. Begitulah pekerjaan baru Pak Karto. Tak ada seragam dinas seperti karyawan kantoran. Hanya kaos oblong dan sarung.
Sejak kejadian sebulan lalu itu, Pak Karto sering senyum-senyum sendiri melihat perempuan mengenakan kalung , gelang dan cincing dari emas di badannya. Keyakinan Pak Karto, bisa jadi perhiasan emas yang dipakai orang-orang itu berasal dari bahan baku miliknya.
Cobalah kita menengok sebentar ke istri Pak Karto. Penampilannya perempuan berbadan subur ini juga telah dihiasi emas di leher, tangan dan jari-jari tangannya. Mengkilat-kilat kena cahaya. Di leher Bu Karto bergantung kalung sebesar 10 gram. Pergelangan tanganya dilingkari 5 buah gelang, yang satu gelangnya berberat 5 gram. Jari kanannya ada tiga cincin yang terletak di jari manis, jai tengah dan jari telunjuk. Di jari-jari tangan kiri juga ada tiga cincin. Rata-rata sekitar 6 cincin Bu Karto itu beratnya masing-masing 10 gram, sehingga menjadi 60 gram. Di pergelangan kedua kaki juga ada emas, yang beratnya masing-masing 5 gram. Hitung saja sendiri, sudah berapa gram emas yang menempel di tubuh Bu Karto, yang selalunya dibawa kemana-mana. Eh, ada satu lagi emas Bu Karto, yakni : satu gigi tengah Bu Karto yang semula ompong, kini diganti menjadi gigi emas.
Itu istrinya. Mari kita lihat anaknya. Anak pertama bernama Katno, yang sekolah hanya sampai SD, kin telah berumur 25 tahun. Bila Pak Karto tukang ojek, Katno sedikit lebih enak dibandingkan kerjaan bapaknya. Katno yang dulunya nganggur kini sopir angkot trayek B jurusan dalam kota. Dia telah memiliki taksi sendiri.
Anak kedua Pak Karto dan istrinya yang biasa dipanggilnya “bu’e”, adalah perempuan. Namanya Ngiyem. Ya, jangan heran. Namanya Ngiyem, menyebutnya bibir agak terbuka lebar, seperti orang tersenyum. Di tubuh Ngiyeyem juga bergantungan emas. Berkilat-kilat diterpa cahaya.
Partono anak nomor tiga. Setelah berhenti di kelas 2 SMA kini melanjutkan. Dan yang nomor empat masih kecil dan belum sekolah. Karena umurnya belum lagi empat tahun. Namanya Parmin.
Keluarga Pak Karto kini sudah benar-benar berubah. Cuma rumahnya masih di Gang 3 Jalan Pesut Kelurahan Sungai Dama. Rencananya di bulan kedua, dia akan pindah ke Jalan Kakatua dekat kantor Koran harian Manuntung.
***
KEHIDUPAN Pak Karto yang berubah 360 derajat dalam waktu hanya sekitar sebulan, membuat tetangga heran dan di antaranya ada yang curiga. Pak Karto kok bisa dalam waktu sekejap kaya mendadak. Apakah dia mendapat warisan dari Jawa? Atau menemukan harta karun. Bibir ke bibir, akhirnya : berita Pak Karto mendadak kaya, menyebar ke seluruh kampung. Masyarakat sekitar gempar. Isu semakin membesar. Ada yang mengisukan Pak Karto itu punya tuyul.
Seorang tetangga Pak Karto, yang juga tukang ojek (mungkin saya tak perlu menyebutkan namanya) diam-diam melapor ke polisi.
‘’Lapor Pak, di kampung Sungai Dama ada seseorang penyeludup emas. Setiap hari dia menjual emas batangan sebesar pisang ke toko-toko emas,’’ lapor tetangga itu ke polisi.
Pak Karto akhirnya dimintai keterangan; ‘’kenapa kamu kaya? “ tanya salah seorang polisi. Pak Karto sulit menjelaskannya.
‘’Saya susah menjelaskan kenapa kami kaya raya. Tapi a pa salah kami? Kami tidak mencuri dan tidak ada warga yang kehilangan emas berkilo-kilo,,’’ kata Karto.
Karena polisi agak kesulitan mengusut tuntas darimana Pak Karto mendapat emas batangan itu, Pak Karto pun disuruh pulang dulu untuk selanjutnya akan dipanggil ulang.
Pulang dari kantor polisi, Pak Karto memutuskan menyewa pengacara. Pengacara itu juga membujuk, agar dia perlu menyiapan gugatan balik. Pak Karto memang tidak bisa terima, mengapa mantan tukang ojek tidak boleh kaya. Kenapa setelah kayak malah dicurigai? Kenapa saat miskin tidak ditanya dan dibiarkan?
Dua bulan kemudian.
Pak Karto kini jadi bahan berita di sejumlah media massa. Sebuah koran harian nasional, Indonezia menuliskan judul; Tahi menjadi Emas, Karto Mendadak Kaya. Pak Karto jadi terkenal. Wajahnya nampak di sejumlah koran, majalah dan TV nasional.
Sayangnya, hidup Pak Karto malah menjadi tak tentram. Menurut perasaan Pak Karto, ada polisi yang mengikuti dan menyelidikinya. Gerak-gerik Pak Karto diawasi. Tapi polisi kecele. Suatu kali Pak Karto tidak keluar-keluar rumah. Besoknya, polisi melihat Pak Karto menjual emas lagi ke toko-toko emas. Padahal polisi bergantian memantau di dekat rumahnya. Jangan-jangan untuk mengetahui siapa tahu ada teman Pak Karto, yang dicurigai sebagai penyeludup datang ke rumahnya. Tapi tidak ada.
Akhirnya polisi menyerah. Kesimpulan sementara hasil penyelidikan; Pak Karto tidak bersalah dan tak ada seorang pun yang melapor telah kehilangan emas batangan. Namun masih saja menyisakan pertanyaan di masyarakat, darimana Pak Karto mendapat emas batangan itu? Orang-orang banyak berdatangan ke rumahnya. Mereka ingin tahu, darimana Pak Karto menemukan emas batangan tersebut. Pak Karto tetap merahasiakannya. Bukannya menjelasakan, Pak Karto malah memecahkan emas-emas batangan menjadi kecil-kecil, dan membagikannya ke warga yang datang ke rumahnya.
***
SEKITAR Tiga bulan Pak Karto mengunci rapat-rapat mulutnya, untuk tidak membocorkan rahasia asal usulemas tersebut. Tapi tidak dengan istrinya yang dipanggil Bu’e. Perempuan gemuk pendek itu kelepasan omong, dan bocorlah rahasia tersebut, seperti air deras yang keluar dari lobang. Kok bisa Bu’e yang membocorkan rahasian emas Pak Karto tersebut?
Ceritanya begini; waktu itu ketika Pak Karto sedang menjual emas hasil produksinya ke kota, Bu’e didatangi orang bule. Kelihatannya sih dari Inggris.
Bule : Selamat siang bu Karto. Ibu tampak cantik sekali dengan perhiasan-perhiasan di leher, jari tangan, pergelangan kaki. Terpenting lagi semoga ibu baik-baik saja
Bu’e : Siang mister. Mister dari Inggris, kok fasih sekali ngomong Indonesia? (wajah Bu Karto nampak memerah. Selain karena gugup, juga malu dipuji)
Bule : Saya koresponden sebuah televise terkenal dari Inggris. Nama saya Jim Later.
Bu’e : saya bu Karto …
Jim Later : Perhiasannya bagus Bu Karto, cocok dengan … saya panggil mba Karto saja soalnya terlihat masih muda, sekitar dua puluh tahunan
Dan seterusnya, dan seterusnya. Jim Later pintar merayu.
Itulah perjumpaan awalnya. Bu’e terus dipuji-puji Jim, yang tinggi besar dan ganteng itu. Bu’e tersipu-sipu sampai-sampai terlihat sebuah gigi tengahnya berkilau-kilau kena cahaya.
Lalu akhirnya,
Bu’e : pekerjaan suami saya gampang. Pagi-pagi bukan celana, jongkok buang air besar. Air besar alias tahi milik suami saya yang berupa emas-emas itulah yang dijual di toko emas.
Jim : oh (kaget)
Bu’e : Begitulah kenyataan yang sebenarnya mister .Sehari itu bisa mengumpulkan sekitar 2 kilo
Jim : oh (kaget lagi, dengan mulut terbuka)
Bu’e : kok oh, oh saja dari tadi
Jim : ini baru berita
Bu’e : ini berita baru
Jim : apa makanan suami mba?
Bu’e : suami saya itu senang jengkol, ikan asin, tempe, tahu, sayur bening. Memang kenapa Pak?
Jim : Ah, tidak apa. Kebetulan saya juga suka tempe, tahu, tapi tinja saya tidak berubah menjadi emas. Tiinja saya memang kuning seperti warna emas, tapi tinja saya itu lembek.
Wawancara itu tak hanya diberitakan melalui TV asing, tapi juga seluruh Koran-koran dan majalah di seluruh dunia. Dari pemberitaan media tersebut, masyarakat di seluruh dunia akhirnya mengetahui, bahwa emas yang dijual Pak Karto ke toko-toko emas itu berasal dari dalam perutnya.
Demi keamanan, karena rumahnya (Pak Karto sudah pindah ke Kakatua) terus didatangi orang-orang hingga jutaan orang. Akhirnya Pak Karto mengontrak 100 orang untuk bertugas menjaga rumahnya, diri dan keluarganya. Pak Karto terus berpindah-pindah rumah. Kadang menetap di Sindang Sari, sebuah kelurahan dari kota Samarinda yang bertengga dengan kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara.
***
CERITA belum berakhir. Sebuah undangan ditujukan kepada Pak Karto. Bila saja yang mengundang hanya Ketua RT, mungkin Pak Karto bisa berhalangan untuk hadir. Ini yang mengundangnya adalah Presiden. Presiden? Iya, presiden. Tidak hanya satu. Lima presiden dari 6 negara super power ikut hadir. Yakni dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, China, Australia dan Tiongkok.
Setelah dibujuk-bujuk Bu’e, Pak Karto beserta Bu’e istrinya akhirnya bersedia memenuhi undangan tersebut. Kedatangan Pak Karto dan istri disambut hangat 7 presiden, termasuk 6 presiden Negara super power yang sudah disebutkan di atas tadi.
KARTO SI TAHI EMAS PENUHI UNDANGAN 7 PRESIDEN
Setelah menyembunyinkan diri, akhirnya Karto bin Karto kembali muncul lagi ke permukaan. Kemunculan lelaki ini terkait undangan resmi dari 7 kepala Negara. Rencananya hari ini (1/1) Karto tiba di istana Negara. Karto yang ketenarangannya mengalahkan Michael Jackson ini kemungkinan besar diminta melakukan aksinya. Karena ke 7 kepala Negara ingin melihat langsung keajaiban ini.
Demikian salah satu kepala berita sebuah koran nasional menuliskan. Semua koran memberitakan tentang Pak Karto. Di sekeliling istana, masyarakat berjubel-jubel. Selain ingin melihat keanehan tersebut secara nyata, mereka juga berharap siapa tahu ada emas yang dibagikan kepada masyarakat. Massa berjubel-jubel. Ada yang terjepit di pagar. Bahkan ada sekitar 187 orang yang pingsan.
Sedangkan Pak Karto selalu dikawal pasukan khusus keamanan nasional. Pak Karto dinginapkan di istana Negara. Sejak kedatangan, Pak Karto dan istri sudah diatur protokoler. Pakaian diharuskan yang rapi, pakai jas dan dasi. Makan pun disediakan yang enak-enak. Ada berbagai macam daging, ada daging kambing, daging sapi, daging rusa begitupula dengan ikan, sayur dan makanan=makanan yang biasa disajikan di restoran dan hotel-hotel berbintang. Melihat makanan itu, Pak Karto merasa sudah kenyang. Tapi dia diharuskan makan banyak. Tapi lagi, ikan asin, tempe kesukaan Pak Karto tidak ada. Itu masalahnya. Pengawal meminta Pak Karto harus makan banyak, agar bisa membuktikan kelebihan yang dimilikinya. Makanan berlimpah ruah, dimaksudkan agar Pak Karto bisa makan banyak, dan besok pagi tidak mengecewakan undanan terutama 6 kepala Negara super power.
***
PAGI hari. Undangan sudah berdatangan. Selain 7 kepala Negara, juga ada undangan untuk duta besar Negara lain. Mereka duduk di deretan depan. Di belakang 7 kepala Negara. Panggung berbentuk jamban berbentuk panggung kecil, yang tingginya sekitar 1 meter telah disiapkan di depan. Pintunya dari kain. Penataan panggungnya cukup bagus. Seperti pertunjukan pesulatdunia David Copperfield. Pertunjukan Pak Karto ini disiarkan langsung ke seluruh dunia. Penontonnya mengalahkan pertandingan sepak bola dunia.
Tak ingin membuangbuang waktu lama, pembawa memulai acara. “ Tuan dan puan sekalian yang saya hormati. Teruatama bapak yang mulia dan yang terhormat, 7 kepala Negara yang besar, inilah acara atau pertunjukan spetakular di sepanjang hidup manusia. Tentang kemujuran Pak Karto, yang dari perutnya bisa memproduksi emas yang dikeluarkan dari pantatnya … tapi sebelumnya kita dengarkan sambutan 7 kepala Negara terlebih dulu,’’ ujar Suzanne, salah seorang penyiar TV nasional terkenal.
Tepuk tangan undangan tak jadi bergemuruh. Satu persatu 7 kepala Negara menyampaikan pidato sambutannya.
Suara Suzanne, setelah itu kembali terdengar enak di kuping daripada 7 kepala Negara. ‘’Kini saatnya Pak Karto kita minta untuk menunjukkan keajaibannya. Silahkan Pak Karto …,’’ suara Suzanne yang serak-serak basah.
Tepuk tangan bergemuruh. Bergemuruh karena selain jutaan masyarakat yang berada di sekeliling istana Negara, yang menyaksikan dari layar televise, pemersa di rumah di seluruh dunia serempak bertepuk tangan.
Pak Karto menuju panggung. Pakai jas hitam dan dasi biru. Dia menganggukan kepala kea rah kepala Negara dan undangan lainnya. Hatinya berdebar-debar. Dia melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam jamban. Jas di buka ditaruh di sisi dinding jamban yang bagian atasnya tidak beratap. Lalu celana panjang. Dan terakhir celana dalamnya.
Lima menit berlalu. Undangan dan masyarakat seluruh dunia tegang. Sepuluh menit … dua puluh menit … tiga puluh menit … belum ada tanda-tanda sesuatu yang jatuh dari atas jamban. Padahal seperti baki berwarna kuning keemasan sudah disediakan di bawahnya.
Pak Karto terus berupaya; sambil menekan-nekan perutnya agar cepat bisa membuang air besar atau mengeluarkan tinja dari dalam perutnya. Mukanya merah. Pada menit ke 55, ada sesuatu yang jatuh. Pak Karto menengok ke bawah, lewat lubang di dekat pantanya. Tapi telinganya tak mendengar suara logam, ting ting ting seperti biasa dia berak. Dia mengeluarkan tinjanya lagi. Tetap saja lembek. Tak berubah. Dia mengusap-ngusap matanya; apa tidak salah lihat.
Masih tak yakin, dia kembali mengeluarkan sisa-sisa makanan enak yang disantapnya malam tadi dengan terpaksa. Tetap saja yang keluar dari perut lewat pantatnya adalah tahi. Akhirnya Pak Karto bangkit dari jongkoknya, lalu menyibak pintu kain dan menjenggukkan kepalanya keluar. Dua perempuan cantik yang berdiri di sisi pintu menutup hidungnya.
Mata Pak Karto menatap kea rah undangan, mencari-cari istrinya. ‘’Bu … bu’ee ini bukan mimpi toh? “. Lalu pingsan.*
Samarinda, 1989.

cerpen : BULAN LUKA

BULAN LUKA  

::NAGA PAMUNGKAS::

BAR itu masih ramai. Falling in love-nya Kenny G masih mengalun lembut. Musik yang komunikatif, dengan irama yang lancar mengalir dari belaian suara saksofon yang menghibur rasa. Itu cukup membuat pengunjung bar itu hanyut rasa terbawa irama, di antara siraman dry ice tipis lampu bar yang menyebar ke segenap bilik.
“Turun mas?”
Aku menggeleng
Bau-bau alkohol menikam hidung. Asap-asap rokok mengabut mata. Bau parfum wanita itu pun mula mengususik hidungku. Wanita yang mengenakan rok span super mini yang ketat, dengan baju berbelahan dada sangat rendah berwarna pink. Dua bukit putih menyembul keluar. Tanpa kutang.
“Kenapa diam, mas,” suara wanita yang sedang menemaniku minum
Aku menatapnya.
Mata-mata merah.
Menor.
Alkohol
Ah.
Wanita menor itu lalu mengambil sebatang rokok. Diletakkannya sebatang rokok di antara kedua-dua bibirnya yang merah basah. Kerana gincu dan alkohol. Tangannya lalu memunggut korek jenama Zippo.
Ting cress … wanita bermata merah kerana alkohol itu menghembuskannya perlahan. Asap rokok kembali mengabut. Meraba-raba pupil mata.
Mata-mata merah.
Menor.
Alkohol.
Ah.
“Minum lagi, mas?” tawar wanita itu genit.
Kali ini aku mengangguk.
Wanita itu tersenyum. Lalu memanggil pelayan bar.
Sesaat. Dua saat. Dua botol bir hitam lagi.
Ah.
Aku melirik arloji. Malam masih panjang. Aku menarik nafas. Betapa, ah, betapa aku merasa asing dengan diriku sendiri. Apakah telah terjadi perubahan pada diriku? Dan perubahan itu pulalah yang lalu mendatangkan keasingan? Ah, aku tidak mengerti. Kembali aku menghela nafas. Panjang.
Lagu berganti.
Silhoutte-nya Kenny G!
“Apa yang difikirkan, mas? Kok tidak seperti biasanya mas jadi pendiam begini “.
Aku masih diam.
“Mas datang ke sini’kan untuk bersenang-senang …,” kembali wanita menor itu mengoceh. “Ayolah, mas …,” wanita itu kembali menenggak bir hitam lagi.
Aku membuang puntung rokok di asbak. Menuang bir hitam ke gelas. Lalu menenggaknya dan alkohol mulut menggigiti tubuh.
Merah.
Aku mengambil merokok.
Ting cress
Asap kembali mengepul.
Bau alkohol menyergap hidung.
Juga bau parfum wanita itu.
Kesenangan? Bukankah itu yang selama ini aku cari? Atau lebih tepatnya pelarian. Suara hatiku sendiri berkata.
“Akuteringat isteriku …,”ujarku perlahan.
Wanita itu tertawa.
“Kenapa?” Tanyaku hairan.
“Mas lucu,”wanita itu kembali tertawa. “Pada masa sekarang dan di tempat ini mendadak mas teringat dengan isteri mas?”
“Aku sudah terlalu banyak membohongi isteriku”.
“Mas merasa bersalah dan menyesal?”
Aku mengangguk.
“Minum mas …”.
Bau alkohol kembali memeluk hidung.
“Aku tidak tahu. Entah apa yang sedang dilakukan isteriku sekarang ini di rumah. Aku telah berkali-kali membohonginya. Ada rapat di kantor, ada pertemuan di luar kota, ada lembur dan berbagai alasan lain, “aku mengacak rambutku. Aku memandang wanita itu, yang duduk dengan kaki berjuntai dalam pose yang sangatmerangsang. Tapi saat ini yang ada dibenakku adalah isteriku. Istriku yang sederhana. Istriku yang penurut. Istriku .. .
“Sudahlah mas …,” wanita itu menggenggam tanganku. Alkohol mula membakar tubuh kami. Aku menghisap dalam-dalam asap rokokku dan menghembuskannya perlahan.
“Tak usah terlalu difikirkan mas …,” ujar wanita itu menghibur. Adalah memang tugas dia menghibur tetamu. Dia telah melakukannya dengan baik. Di mana-mana juga. Ya, di mana-mana juga bila aku sedang memerlukan kehangatan, yang dibayar dengan rupiahnya.
“Aku telah menghianti isteriku!”.
Ada suara penyesalan yang keluar dari mulutku.
Dan asap-asap rokok mengabut mata.
Ah.
Awalnya adalah pertengkaran.
Lalu bar.
Alkohol.
Dan wanita.
Aku mendesah.
Adalah kebimbangan saat ini yang menyergapku. Mengikat dan membelenggu fikiranku.
Cerai?
Ah, tidak! Aku masih mencintai isteriku. Tapi, tapi apa yang kulakukan saat ini? Apa yang telah kuperbuat? Apa boleh dikatakan aku masih mencintai isteriku, sementara aku sendiri asyik bermesraan dengan wanita lain?
Aku telah mandul! Mandul sebagai seorang suami sejati. Suami yang benar-benar suami. Aku telah menghianti isteriku. Aku … aku adalah suami yang berhianat!.
“Turun mas,” wanita itu menarik tanganku, mengajakku berdansa.
Aku mengikut.
Ada dekapan.
Ada mesra yang berpagut.
Musik mengalun lembut.
Aku mengikut.
Tanpa terasa musik hampir habis.
“Capek mas,” wanita itu mengajakku berhenti.
Kami kembali duduk.
Wanita itu menengguk bir hitam yang masih tersisa.
Dan aku kembali menyalakan rokok.
Asapnya mengepul.
Mengabuti fikiranku.
“Kamu harus kawin lagi?” tergiang lagi suara ibuku.
“Tapi bagaimana dengan isteriku?”
“Cerai!”.
Ah.
Aku kembali menghisap dalam-dalam asap rokokku. Atau jadikan dia isteri pertama, “suara ibuku berdengung-dengung lagi di fikiranku.
“Tapi …”.
“Kamu anak tunggal. Kamulah penerus keturunan kita! “.
Ah.
Aku seperti seekor serigala tua ompong yang terkurung dalam kerangkeng besi dan seekor arnab kecil mempermainkan aku dari luar kurungan!
Anak. Itulah yang mengusik kami, setelah sekian tahun berkahwin dan umur semakin senja. Kami merindukan anak.
Tanpa anak, malam jadi tak berbintang.
Meja makan hampa.
Dan ranjang menjadi dingin.
Pernah isteriku mencadangkan agar kami mengadopsi anak. Tapi ibuku melarang, darah daging yang jadi alasan.
Ah, aku adalah serigala ompong yang penurut!
Tidak!
“Aku ingin pulang. Aku rindu isteriku …, “kataku.
“Mas …”.
Aku membayar minuman.
Juga wanita itu.
Lalu pergi.
“Aku rindu isteriku …” suara hatiku.
Maka mobil kian kupercepat. Gas pun semakin kuinjak.
Mobil semakin laju.
Menembus malam.
Mencumbu jalan.
“Kamu anak tunggal!
Kamulah pengganti keturuan kita! “Suara ibuku kembali menghantui di pikiranku.
“Tidak! Aku rindu isteriku … “.
“Atau jadikan dia isteri pertama!”.
Mata-mata merah.
Menor.
Alkohol.
Ah.
“Bagaimana dengan isteriku”
“Cerai!”
Suara-suara ibuku terus meracuni otakku.
Mobil kian kupercepat.
Tak ada suara lagi.
Sunyi.
Sunyi.
Sunyi.
Pada suatu garis lurus lain, tanpa kusadari sebuah dump truck melaju dengan kecepatan tinggi. Menginjak rem pun percuma. Akhirnya di persimpangan jalan tabrakan tak dapat dielakkan lagi.
Seketika aku tiba-tiba menjadi ringan.
Melayang.
Di bawah, di dalam kereta yang hancur nampak jasadku berlumuran darah. Tak bergerak.
Aku melayang. Melayang seperti awan.
Sementara di rumah, aku melihat isteriku resah menanti kedatanganku. Dia melangkah lalu membuka pintu. Ah, malam semakin renta. Dia kembali menutup pintu. Aku melihat penampilannya kini berubah. Dia mengenakan rok span super mini yang ketat dengan baju berbelahan dada sangat rendah, berwarna pink. Dua bukit putih menyembul keluar. Tanpa kutang. Aku sendiri tak akan pernah bisa pulang. ***
(Koran Harian ManuntunG/Kaltim Post, Minggu 20 Jun 1993)

cerbung : (1) Perguruan De Mo Cui di terpa Badai

(1)

Perguruan De Mo Cui di terpa Badai

Oleh : Naga Pamungkas

13099612391726123193

—- Seri  I.  menuju pertarungan lima tahunan; 2013

1309961104247284306
PERTARUNGAN puncak para pendekar baru sekitar 2 tahun lagi. Pertarungan ini bakal seru, karena setelah menjabat sebagai kepala pendekar dua periode Sui Bai Yu  (SBY) atau yang terkenal dengan jurus ssejuta penebar pesonanya itu tak bisa bakal mencalonkan diri lagi.  Karena  sudah kesepakatan  aturan Dewan Pendekar sejak runtuhnya Dinasti Su Hat su.  Sebagai penasehat di perguruan Dei Mo  Cui, Sui Bai Yu berpikir keras; bagaimana cara agar murid perguruan Dei Mo Cui bisa tetap menduduki posisi puncak kepala para pendekar.  Tapi sayangnya saat ini, perguruan De Mo Cui sedang diterpa badai.
‘’Saya sudah perintahkan kepala keamanan kerajaan untuk menjemput Na Zu untuk dibawa pulang ke negeri  kita.  Bila dibiarkan terus berlarut-larut nama perguruan De Mo Cui akan rusak. Karena Na Zu membawa kitab dalam perguruan De Mo Cui,’’ kata  Sui Bai Yu saat rapat bersama para pengurus perguruan Dei Mo Cui di Istana Ci Kei A.
Di antara yang hadir saat rapat ialah Ketua Perguruan De Mo Cui, yaitu A Nau, pendekar kalem yang bila berbicara datar, tenang dan terukur baik kalimatnya.  A Nau terpilih sebagai ketua setelah bertempur dengan satu teman satu perguruan,  An Diu, yang juga berambisi untuk jabatan ketua perguruan.  Sekalipun terlihat kalem, tapi A Nau ini ibarat macan yang mengintai mangsa. Daya refleknya  cukup tinggi.  Dia muncul pada saat yang tepat. Begitu pula pada saat partai De Mo Cui digoyang isu, A Nau menunggu, memasang insting dan pada saatnya tiba seperti macan, dia akan keluar dari persembunyian untuk menerkam.  Jurus andalanya miliknya yang ditakuti musuh adalah pukulan tanpa memukul.
Dalam rapat, ada pula sekretaris perguruan De Mo Cui, I Bau, ada wakil ketua berbagai bidang.  Lelaki kurus ini sebenarnya termasuk baru di perguruan De Mo Cui. Tapi karena dia anaknya Sui Bai Yu, maka dia dipilih sebagai sekretaris perguruan.  Sekalipun muda usia, I Bau ini jangan dianggap enteng. Jurus andalannya adalah  loncat timpakul. Bagi yang mengerti, timpakul ini adalah jenis binatang yang hidup di sungai. Binatang ini seperti kadal ini senang bemain di batang timbul. Ilmu inillah yang dipakai Ibau untuk bisa berthan hidup. Dulunya, I Bau ini berteman dekat dengan  An Diu.  Namun setelah An Diu gagal terpilih sebagai ketua perguruan dikalahkan A Nau, maka I bau yang pintar membaca situasi dan dibantu ayahnya, Sui Ba Yu, maka dengan jurus lompat Timpakul, I Bau lantas bergabung dengan A Nau dan diangkat sebagai sekretaris perguruan.
Di antara jajaran wakil ketua ada , Ru Hau bidang informasi dan komunikasi perguruan.  Dulunya lelaki ini berkuncir, namun sejak mengundul kepalanya kuncirnya hilang. Kini rambutnya yang sedikit  sudah tumbuh kembali.  Ru Hau ini pindahan dari perguruan Go Kai, perguruannya saat dinasti Su Hat Su. Berbeda gaya bicara dengan A Nau, Ru Hau ini bila berbicara sedikit kacau. Tapi bagi Sui Bai Yu, gaya Ru Hau ini jadi kelebihan bagi perguruan De Mo Cui untuk mengobok-ngobok Dewan Pendekar. Senjata andalan Ru Hau inilah adalah suara dari neraka,  bagi yang tak memiliki ilmu tinggu bisa-bisa memekakkan telinga. Akibatnya telinga jadi merah. Ru Hau ini pernah mengadu ilmu dengan tokoh perguruan Banteng Gendut, Ga Yu. Mereka saling bertukar ilmu saat rapat bersama pengurus anggota Dewan Pendekar lainnya.
Pengurus perguruan lain yakni Nu Pa Ti, wanita pendekar dari seberang lautan. Sebelum bergabung dan masuk menjadi pergurus perguruan De Mo Cui, Nu Pa Ti menjadi anggota panitia penyelenggara pertarungan para pendekar tahun 2009. Karena anggota panitia dituntut independen, agar tak memihak suatu perguruan, maka Nu Pa Ti mengundurkan diri dan bergabung ke perguruan de Mo Cui. Selain Nu Pa Ti, ada  Ro Su Yao,  si mata tajam. Ro Su Yao ahli pula dalam pengamatan gambar-gambar porno. Jurus andalanya, tendangan mata telanjang.
Sekalipun rapat berlarut-larut hingga malam, namun mata Su Bai Yu nampaknya belum ngantuk. Pendekar tinggi ilmu yang pembawaannya tenang ini menatap satu-satu pembicaraan anak buahnya. Mantan jenderal ini mendengarkan satu persatu anak buahnya menyampaikan pendapat mereka masing-masing. Sekalipun tak diucapkan, khalayak sudah tahu di dalam tubuh perguruan De Mo Cui telah terjadi perpecahan.  Ini buntut dari pemilihan ketua perguruan beberapa waktu lalu. Na zu dikenal dekat dengan A Nau. Dikepengurusan A Nau,  Na Zu dipercaya sebagai bendahara perguruan.
Kenapa Nazu melarikan diri? Karena keterlibatan dirinya dengan proyek pembangunan sebuah gedung milik kerajaan. Sebenarnya, petugas yang khusus menyelidiki kasus tersebut  sudah berupaya mencekal agar Na Zu tak kemana-mana selama  pemeriksaan kasus tersebut. Namun surat telat sehari, setelah Na Zu berada di negeri tetangga, ada surat cekal.
Apakah Na Zu akan pulang ke negeri asalnya? Atau memilih bersembunyi selamanya. Tindakan-tindakan apa saja yang perlu ditempuh agar citra perguruan De Mo Cui tidak terus merosot? Itulah bagian dari rapat malam itu, malam yang membuat mata Su Bai Yu belum begitu mengantuk. Berbeda dengan mata I Bau, sang anak yang lebih memilih sedikit berbicara tetapi banyak berpikir. I Bau menguap berkali-kali. Dia benar-benar ngantuk.(bersambung).

cerpen : Surat Kepada Yth. Tikus

Surat Kepada Yth. Tikus

:: Naga Pamungkas ::

REP | 02 July 2011 | 06:20 83 6   Kompasianer menilai menarik
1309822213734437636Surat Kepada Yth. Tikus
SEBELUMNYA saya mohon maaf kepada bangsa tikus, baik tikus comberan maupun tikus yang hidup dimana pun, di kantor dewan, di kantor Pemerintah Propinsi (pemprop), di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot) serta di departemen dan instansi pemerintahan lainnya, di kantor kejaksaan, di kantor KPK, di kantor kepolisian  ataupun di plafon rumah kita. Saya minta maaf, karena saya menyamakan mereka dengan manusia yang mengkorupsi uang negara.
Kepada bangsa tikus di manapun berada,
Entah kalian harus marah atau bangga, karena derajat kalian sama dengan koruptor, yang jelas kalian harus dibasmi. Bila tikus penggeret batang padi di sawah dibunuh-bila perlu dibakar-entah apakah manusia tikus  atau tikus manusis (tikus yang berbentuk manusia) perlu dihukum yang sama, sama-sama diburu, dibunuh lantas dibakar. Tapi rasanya kurang tikusiawi. Kasihan. Mungkin, kalian para tikus boleh iri, tapi begitulah. Manusia tikus ini sulit sekali dijerat, karena memang rata-rata mereka lihai, pandai berkelit.
Perlu kalian juga ketahui, manusia tikus ini berada di mana-mana. Ada yang tugasnya (semestinya) menangkap manusia tikus, eh gak ketangkap-tangkap. Kenapa? Ini sulit, karena si penangkap atau si penjerat manusia tikus itu, terdapat juga manusia tikus. Aneh kan. Mana bisa manusia tikus memangkap manusia tikus juga, konco sendiri.
Saya tadi menyebutkan, manusia tikus yang akan ditangkap lihai dan pandai berkelit. Begini; ketika mereka ketahuan, mereka lalu “menyisihkan bagian makanan yang dicuri” untuk diberikankepada  si manusia tikus penangkap. Akhirnya, karena telah mendapat bagian makanan hasil curian, manusia tikus yang mestinya menggurung manusia tikus malah “kekenyangan” dan diam saja. Diam saja bisa pura-pura bersikap garang, tapi garang tak bertindak. Sebatas di mulut saja, tapi gak bergerak.
Begitulah.
Kepada bangsa tikus, saya juga perlu menyampaikan, masyarakat manusia juga gak bisa bertindak apa-apa. Mungkin hanya bisa menunggu saja; berharap manusia tikus itu mati sendiri, karena kekenyangan. Tapi itu tidak mungkin. Paling-paling manusia tikus yang terjerat itu manusia tikus comberan, sementara bos-bos tikus yang banyak memakan  uang negara  bebas berkeliaran.
Kepada bangsa tikus, saya mohon maaf tanpa konfirmasi karena menyamakan kalian dengan koruptor, penggerogot uang negara. Mungkin kalian tersinggung, karena merasa tidak banyak merugikan manusia. Namun terlepas soal membawa-bawa “nama tikus”, pada dasarnya tikus adalah musuh manusia, karena merugikan. Terlepas dari siklus simbiose ular makan tikus, tikus makan kodok, kodok makan nyamuk dan seterusnya. Ini menyangkut tentang hak dan bukan hak.
Akhirnya, mungkin kita perlu bersama-sama menyatakan perang terhadap  manusia tikus, yang merugikan masyarakat tikus dan manusia itu sendiri. Untuk hal ini, tiada maaf bagi manusia tikus, yang meniru-niru tikus.

Surat tersebut tak sempat dikirimkan, karena keburu digigiti tikus hingga hancur. ***

======================================================
KOMENTAR BERDASARKAN :
  • 2 July 2011 06:43:33
    sayang sekali, baru ada racun tikus, belum ada racun manusia tikus,,,
    salam….
    Suka
  • 2 July 2011 07:39:47
    ‘Sindiran’ kepada koruptor model begini kagak bakalan mempan, coba model RRC yakni contoh TEMBAK MATI….
    Suka
  • 2 July 2011 07:48:16
    mungkin kita harus membuat detector canggih yang bisa mengendus seseorang apakah dia manusia tikus alias koruptor atau bukan. kalo menyala artinya dia koruptor, langsung aja tangkap dan BAKAR…!!!!!
    Suka
  • 2 July 2011 08:24:24
    >>> mas luxman ; salam kenal … mmng perlu dibuat ‘racun untuk manusia tikus’ ini, utk mengurangi populasinya yg terus berkembang. Cuma kita–dan masyarakat lainnya–msh blm percaya sama org atau sekelompok org yg dipercayasbg ’si pembuat racun’, jgn-jgn ‘racun yg dibuat ’sengaja tdk utk ‘mematikan’.
    >>> mas Udik ; setuju banget, disindir, disumpahi, didemo ga mempan lg, krn telinga telah tersumbat atau malah jgn-jgn ga bertelinga lg
    >>> mas Dindin ; mmng kt perlu ‘detector’ yg canggih utk melacak ‘manusia tikus ini’, krn msh byk yg berkeliaran yg sulit terdeteksi, malah manusia tikus ini lebih cangkih lg, punya ‘detector’ yg sulit terlacak
    salam kenal …. utk semua. jagalah diri kita dan keluarga kita jgn sampai tertular penyakit yg menggerogoti uang milik org banyak
    Suka
  • 2 July 2011 09:55:10
    Ya sudah disindir lwat lagu iwan fals pun para tikus masih merjalela, rakyat jadi bingung mau beli racun tikus ga mempan, mau buat aturan sudah di susupi tikus duluan, tikus-tikus tak akan kenyang huff
    salam kenal mas
    Suka
  • 2 July 2011 20:55:08
    salam kenal, yg penting kita bukan termsk manusia tikus. manusia ular jg bukan. atau pun manusia bunglon. atau simbol-simbol binatang lainnya lg, dan terpaksa meminta maaf lg kpd binantang2 yg ga tau apa-apa itu …

cerpen : Diary Di Sudut Hati (Lihat Kakekmu, Ben, yang berjuang dan berkorban apa saja demi kemerdekaan…)


13098176881826737519

Diary Di Sudut Hati (Lihat kakekmu, Ben, yang berjuang dan berkorban apa saja demi kemerdekaan…)


…….
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan allah (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Al-Baqarah : 154)
…….

BEN masih membaca diary itu. Diary kakeknya, yang ia temukan di gudang, pada tumpukan buku-buku tua saat membersihkannya. Walaupun diary itu sudah usang tapi tulisannya masih jelas terbaca. Ben lalu membalikkan halaman berikutnya. Terus membalik…lalu membacanya, lembar demi lembar ;
Dan… 12 Oktober . Ibu masih sakit. Ketika aku pulang, aku masih melihat Murti menjaga ibu. Ah, gadis malang yang luhur budi. “Gimana keadaan di luar kang?” Tanya gadis itu padaku. Gadis yang kedua orang tuanya tewas diberondong senapan Belanda keparat. Dan kakak laki-lakinya, Burhan, yang juga sahabatku, sampai kini belum diketahui nasibnya.
Aku diam melamun. “Kang Murat! Kok malah melamun…,” suara Murti mengagetkanku. “Surabaya kini merupakan suatu kesatuan benteng yang kuat, Ti…hari ini, telah berdiri barisan pemberontak rakyat Indonesia atau yang disingkat BPRI yang dipimpin oleh Bung Tomo, Asmanu, Sumarno, dan lain-lain. Selain itu sudah lebih dulu bergerak angkatan muda, juga barisan-barisan buruh dengan laskar-laskarnya, dan barisan ulama Surabaya dengan pemuda dan laskar-laskarnya, serta barisan-barisan lainnya. Para ibu dan wanita-wanita lainya pun tanpa ketinggalan turut membantu di dapur umum serta pos-pos kesehatan…,” kataku sambil memandang wajah Murti.
“Syukurlah kang…”. Sementara suara batuk ibu mulai terdengar. Di sini, di rumah yang kapan saja siap dibom Belanda ini, tiba-tiba aku menemukan diri di balik kemelut yang kuat. Oh, Tuhan, berilah kekuatan untuk kami…
15 Oktober 1945. Murti! Betapapun aku ingin mengapaimu, suatu waktu, suatu saat… bagiku saat ini yang terpikir hanyalah perjuangan. Perjuangan!
22 Oktober 1945. Tidak ada yang sempat aku tulis, karena begitu banyak peristiwa…., selain Merdeka Ataoe Mati! Itu saja.
23 Oktober 1945. Oh, Tuhan mengapa engkau panggil ibuku? Tapi biarlah…. aku rela Tuhan, Sang Maha Kuasa. Biarlah ibu menemani ayah. Biarlah ibu damai bersama ayah. Sedangkan Murti tak bergerak di samping ibu. Tak berucap sepatah kata pun. Diam dan membisu, sejak ibu wafat Subuh tadi. Hanya air matanya yang keluar, meleleh melalui pipi. Mengalir dari matanya yang bening. Dia tak bergerak di samping ibu. Tak bergerak di samping orang-orang yang dianggapnya sudah menjadi ibunya sendiri…sejak dulu. Sejak bayi. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Akupun hanya bias mendoakan semoga ibu dan ayah damai di sisi-Nya. Bahagia di dekat-Nya…
25 Oktober 1945. Kamis, tentara Inggris mendarat di Ujung dan Tanjung Karang. Mereka adalah Brigade 49 dalam pasukan sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) deengan sekitar 6 ribu prajurit yang di pimpin oleh Brigjen AWS Mallaby. Kebanyakan perwiranya orang Inggris, anak buahnya oaring Gurkha dari Nepal dan India Utara. Mereka bersenjata lengkap. Mereka mendarat dengan kapal yang bernama Wavenley, Floristan, Assidious, Malaika dan beberapa lagi, dengan di lindungi oleh beberapa kapal perang. Sedangkan Murti tidak sempat aku pikirkan pada situasi sekarang….
26 Oktober 1945. Pihak kita mengadakan perundingan dengan pimpinan tentara Inggris, di Kayoo, mulai pukul 9.00 pagi sampai siang… Malam hari anjing-anjing Belanda itu menduduki penjara Kali Sosok dan melepasakan semua tawanan Belanda, termasuk si bangsat, Kapten Hiujer dan teman-temannya. Tanpa ijin. Kurang ajar! Bangsat! Ben menarik napas panjang. Mendesah. Dan masih membaca diary yang sudah berumur sekitar empat puluh tujuh tahun itu.
27 Oktober 1945. Anjing-anjing itu sudah mulai berani mengganggu. Menggonggong!. Mereka telah mencegat dan merampas kendaraan kita. Ini sudah keterlaluan. Ini sudah menginjak-injak kepala kita! Demi kehormatan bangsa! Demi martabat bangsa! Sekali merdeka tetap merdeka! Malam harinya terjadi pertempuran.
29 Oktober1945. Pertempuran sehari penuh… Aku nggak tahu di mana Murti kini berada. Aku nggak tahu itu. Walaupun ada kangen di hati, yang menusuk dan mengiris.
30 Oktober 1945. Gedung Lindeteves, dekat jembatan semut…Gedung Internatio, dekat jembatan merah… Suasana belum mereda di kedua tempat tersebut. Sorenya, Jenderal Mallaby terbunuh dekat gedung tersebut! Mobilnya terbakar dan meledak! Ben terus membalik halaman berikutnya, yang sebagian halaman diary itu memang sudah sangat usang. Ternyata ada bagian dari halaman-halaman yang robek atau berlubang karena dimakan usia, sehingga menyulitkan Ben untuk membacanya. Ben terus membalik, lembar demi lembar…
6 November 1945. Aku masih belum bertemu Murti. Oh, Tuhan dimana kini dia berada? Lindungilah dia… Aku sangat mengkhawatirkannya… Aku sangat mencintainya… Padahal pertempuran besar kurasa akan terjadi.
10 November 1945 Selama banteng, banteng Indonesia berdarah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama ini tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun. Hanya kalimat itu yang sempat saya tuliskan, dari potongan pidato Bung Tomo melalui radio pemberontakan. Bagiku yang ada saat ini, hanya merdeka atau mati dalam dada. Dalam sanubari. Dan…aku rela berkorban nyawa untuk itu. Dan Ben terus membalik halaman berikutnya.
11 November 1945. Sebutir peluru yang bersarang di bahu kirikulah yang mempertemukan aku dengan Murti di pos kesehatan… “Murti…,” hanya suara itu yang keluar pertama kali dari mulutku. “Istirahatlah kakang…”.

“Beeenn,…,” tiba-tiba terdengar suara ibunya dari luar gudang. “Ngapain kamu lama-lama di gudang, Ben? Sudah selesai belum membersihkannya…”. Ben menutup diary itu. Dan melangkah keluar. Tampak diluar senja telah menegur dan mengingatkannya.
Aku putus dengan Diana. Cinta memang nggak bisa diduga. Nggak bisa di tebak. Begitu pula dengan jodoh, Ben menulis pada buku hariannya, di kamarnya. Lalu memasukkan diary itu ke laci meja belajarnya. Sementara itu, suara saxapone Kenny G, masih mengalun lembut dari tape, di sudut kamar itu. Kamar yang ditempeli poster Broke Shilds yang bertubuh polos berdampingan dengan poster Kahlil Gibran, ada gambar pesawat jet tempur, ada Duran-Duran, ada Bruce Lee, dan juga gambar Ben sendiri, sang penghuni kamar.
Ben melangkah, lalu menendang sansak yang tergantung di langit-langit kamar, di sudut kamarnya. Ia lalu mengambil botol yang tadi sempat di belinya, sehabis pulang kuliah. Membuka tutupnya dan langsung menenggaknya…sedikit demi sedikit. Ada apa dengan saya? Kenapa kamu memutuskan hubungan dengan saya, Diana? Kenapa pada saat saya sudah terlanjur mencintaimu? Kenapa kamu mempermainkan saya, Diana? Kenapa? Ben tertunduk di lantai. Wajahnya mulai agak memerah. Ada apa, Diana? Kenapa dengan saya? Ben menenggak lagi minuman itu. Meminum minuman keparat itu! Sedikit demi sedikit. Wajahnya memerah, begitu pula dengan tubuhnya. Ada apa dengan saya, Diana? Ben menenggak habis minuman itu. Ia pun tergeletak. Wajah kerasnya di gantikan oleh muka yang kuyu, kelelahan. Ben pun terlelap. Dan botol minuman keras itupun sudah kosong di sampingnya. Sementara itu suara saxophone Kenny G pun sudah lama berhenti.
***
BEN kuliah, Bu,” Ben melangkah mendekati ibunya, lalu mencium keningnya. Mencium kening wanita setengah umur, yang ditinggalkan suaminya itu. Wanita yang berusaha menghidupi diri dan anak tunggalnya, dengan hanya mengandalkan usaha cateringnya. Wanita perkasa! Batin Ben sambil melangkah keluar. Sepasang kaki itu lalu melangkah bergantian, susul menyusul keluar halaman. Sepasang kaki itu mulai menyusuri Jalan Gatot Subroto. Menyusuri sendirian, sambil pikirannya menerawang jauh. “Malam Minggu nanti kita ngumpul lagi, Ben! Kata Sam dengan mulut bau alkohol. “Beri dia dua biji double L, Sam…,” mulut Joe juga bau alkohol. Juga mulutnya. Terngiang lagi peristiwa itu di kepalanya. Peristiwa malam Minggu kemarin. “Maaf, Ben. Terpaksa…,” suara Dina juga ikut berdengung di kepalanya. Dipikirannya. Ben pun masih melangkah menyusuri Jalan Gatot Subroto. “Tapi dia memukul teman kita, Ben!”. “Kita harus membalas Ben!”. “Minum lagi Ben…”. Ben menyusuri Jalan Gatot Subroto lalu terus ke Jalan Camar. Perkelahian dengan anak seberang itu pun masih mengendap di pikirannya. Ben menyebrang Jalan Merak menuju Jalan Tekukur. Sementara itu raungan kendaraan yang lalu lalang mulai terdengar bising. Seperti hati Ben, seperti pikiran Ben. Masa bodoh! Lalu berbelok ke Jalan Ruhui Rahayu. “Kamu dapat apa, Ben? Pujian? Pengakuan bahwa kamu lebih jago dari teman-teman mu? Kamu sudah merasa hebat, Ben? Ben terus menyusuri Jalan Ruhui Rahayu. Apa sebenarnya yang kamu cari, Ben? Suara hatinya pun mulai ikut berkata. Apakah hanya dengan seorang Dina, lalu hidupmu juga turut hancur? Kenapa kamu, Ben? Gimana dengan ibu kamu, Ben? Yang berusaha mencari nafkah untuk hidup? Yang berusaha membiayai kuliahmu, Ben?
Sepasang sepatu kets putih itu masih terus susul menyusul menyusuri sepanjang Jalan Ruhui Rahayu. Apa yang sudah kamu dapatkan, Ben? Apa yang sudah kamu berikan buat ibumu, Ben? Apa! Lalu melintasi jembatan Ruhui Rahayu. Kamu nggak ada artinya, Ben, bila dibandingkan dengan pejuang-pejuang dulu, dengan pemuda-pemuda pejuang dulu? Nggak ada apa-apanya dengan Kakekmu, Ben? Kamu nggak berarti! Lihat kakekmu, Ben, yang berjuang dan berkorban apa saja demi kemerdekaan… Menyeberang Jalan  Ruhui Rahayu lalu belok kanan. Ben ingat kakeknya. Ingat diary kakeknya. Selama banteng, banteng Indonesia berdarah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama ini kita tidak akan menyerah kepada siapapun, teringat ia potongan pidato Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan dari diary kakeknya itu. Ben pun terus melangkah dengan gagah menuju kampus. Yang terpikir di kepalanya sekarang adalah bagaimana banteng Indonesia yang berdarah merah itu sekarang berjuang mengisi kemerdekaan.
Malam harinya, di kamarnya, Ben menulis pada diarynya. Aku tidak mensia-siakan pengorbananmu, pahlawanku. Dan aku ingin memberikan catatan diary yang terbaik buat anak cucuku kelak… Ben lalu menutup diarynya. Dan menyimpannya di sudut hatinya yang terdalam***
Samarinda, 17 Agustus 1999